Wartaharian - Kacamata Gerhana Matahari yang dibuat oleh Komunitas
Astronomi Imah Noong di Lembang, yang diberi nama Kacamata Buto Ijo
berhasil meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kacamata
gerhana matahari dengan ukuran terbesar.
Kepala Dinas Pariwisata Bangka Belitung Bapak Tajuddin dalam keterangan
tertulis yang diterima di Jakarta, menyebutkan kacamata buatan komunitas
astronomi itu memang berukuran jumbo dan akan digunakan untuk
meneropong fenomena gerhana di Bangka Belitung.
"Kacamata ini bukan kacamata biasa, melainkan kacamata yang dibuat
dengan filter anti UV berukuran panjang 960 centimeter dan lebar 60
centimeter," katanya.
Kacamata diberi nama "buto ijo" sebagai filosofi yang berarti raksasa
pemakan matahari, dalam mitologi Jawa. Oleh karena itulah, Museum Rekor
Indonesia (MURI) akan mencatat ide kreatif ini dalam rekor baru.
"Ide gila ini berasal dari Komunitas Astronomi 'Imah Noong' yang
merupakan sekumpulan warga Kampung Areng Desa Wangunsari, Kecamatan
Lembang, Jawa Barat. Ukurannya jumbo," katanya.
Kacamata itu menggunakan satu bingkai dan didesain memiliki sembilan
lubang. "Dijamin aman, karena di setiap lubang dipasangi filter berbahan
black polimer neutral density (ND)-5," katanya.
Saat Gerhana Matahari Total (GMT) 2016 yang melintasi 12 provinsi di
daratan Indonesia itu Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata
(Kemenpar) memang mendorong semua daerah untuk membuat kreasi event,
untuk dipromosikan ke seluruh penjuru dunia.
Kacamata gerhana buto ijo dinilai merupakan satu di antara bentuk kreativitas yang unik yang akan dicatat rekor MURI.
"Kacamatanya benar-benar jumbo. Kalau dibentangkan, kacamata raksasa
ini bisa dipakai bersama-sama oleh 45 orang sekaligus. Sekarang
kacamatanya sudah ada di Pantai Terentang, Bangka. Tinggal nunggu
dipasang filternya," katanya.
Kacamata tak lazim itu juga ternyata sukses memikat minat wisawatawan
mancanegara untuk berkunjung ke Pantai Terentang. Wisatawan Jepang,
Malaysia, Tiongkok, Prancis, dan negara-negara Eropa sampai rela antre
untuk mendekat ke kacamata jumbo tersebut.
"Dari keterangan Komunitas Astronomi Imah Noong, pembuatan kacamata
ini menghabiskan biaya sekitar Rp60 juta. Yang mahal bingkai kacamatanya
yang menggunakan bahan akrilik. Filternya juga enggak murah karena
bahannya mencapai Rp15 juta," kata Bapak Tajuddin.
